Abu Vulkanik Anak Krakatau Kembali Menyebar di Bandar Lampung
Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau kembali menyebar ke beberapa wilayah di Kota Bandar Lampung pada Rabu (12/7) pagi. Fenomena ini terjadi akibat aktivitas erupsi gunung berapi tersebut yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Warga sekitar melaporkan langit di sejumlah kecamatan menjadi keruh dan tercium aroma sulfur yang menusuk.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Sunarto mengatakan bahwa aktivitas Anak Krakatau memang mengalami peningkatan sejak awal Juli 2023. "Hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan adanya peningkatan frekuensi erupsi dengan kolom abu yang mencapai ketinggian 500-800 meter di atas puncak," jelasnya dalam siaran persnya.
Dampak di Wilayah Terdampak
Menurut laporan dari Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, sebanyak lima kecamatan menjadi wilayah terdampak utama penyebaran abu vulkanik. Kecamatan Rajabasa, Telukbetung, Kedamaian, Sukarame, dan Enggal melaporkan konsentrasi partikulat matter (PM) 10 melebihi ambang batas normal.
"Konsentrasi PM10 di beberapa titik pengukuran mencapai 150-200 mikrogram per meter kubik, jauh di atas standar normal 75 mikrogram per meter kubik," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, dr. Ahmad Fauzi. Ia menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan warga mengalami gangguan kesehatan serius, namun masyarakat dianjurkan untuk tetap waspada.
Ratusan warga di sekitare wilayah terdampak terlihat memakai masker saat melakukan aktivitas di luar rumah. Selain itu, beberapa sekolah di wilayah tersebut menghentikan kegiatan di luar ruangan dan menunda jam istirahat untuk menghindari paparan abu vulkanik.
Upaya Penanganan dan Evakuasi
Pemerintah Kota Bandar Lampung telah mengaktifkan posko penanganan dampak abu vulkanik di lima kecamatan terdampak. Wakil Wali Kota Bandar Lampung, H. Beni Hernedi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan masker gratis bagi warga dan menyediakan pusat kesehatan terdekat untuk menangani dampak kesehatan.
"Kami juga telah membentuk tim kesehatan yang siaga 24 jam untuk melakukan pemantauan kesehatan masyarakat. Selain itu, kita juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menghadapi abu vulkanik," jelasnya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung juga telah menyiapkan beberapa rumah susun (rusun) sebagai tempat pengungsian sementara jika diperlukan. "Kami sudah melakukan koordinasi dengan BPBD Kota Bandar Lampung dan siaga untuk membantu evakuasi jika diperlukan," kata Kepala BPBD Provinsi Lampung, Irfan Wijaya.
Aktivitas Anak Krakatau Terus Meningkat
Menurut PVMBG, aktivitas Anak Krakatau dalam seminggu terakhir tercatat telah mengalami 34 kali gempa tektonik dangkal, 259 kali gempa vulkanik dangkal, dan 9 kali erupsi. "Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan magma yang terus meningkat di dalam kubah gunung," jelas Sunarto.
Ia menambahkan bahwa PVMBG telah meningkatkan status Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 8 Juli 2023. "Kami meminta warga dan wisatawan untuk tidak mendekati area pantai sekitar 3 kilometer dari puncak gunung," pesannya.
Anak Krakatau yang lahir dari letusan Krakatau tahun 1883 ini terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang relatif tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, gunung ini telah beberapa kali mengalami erupsi yang mengakibatkan penyebaran abu vulkanik ke wilayah sekitarnya termasuk Lampung dan Banten.
Wali Kota Bandar Lampung, H. Herman HN, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti anjuran pemerintah. "Kami berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan situasi. Warga diminta untuk tetap waspada namun tidak panik," tutupnya.
Komentar (0)