03, 2026
Politik

512 Santri Keracunan MBG di Sidoarjo, DPR: Program Ini Sangat Bagus, tapi Tolong Diperbaiki

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/07/01/6a443abe6f869-politisi-partai-kebangkitan-bangsa-pkb-lalu-hadrian-irfani_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

512 Santri Keracunan MBG di Sidoarjo, DPR: Program Ini Sangat Bagus, tapi Tolong Diperbaiki

Tragedi keracunan makanan berat (MBG) yang melibatkan 512 santri di Pondok Pesantren Al-Furqon, Desa Jatirejo, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi sorotan serius. Kejadian ini menimbulkan kepanikan di kalangan peserta didik serta pihak pengelola pesantren, sekaligus memicu tanggung jawab dari pihak terkait.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Sidoarjo Ajun Komisaris Besar (AKBP) Wahyu Hidayat mengungkapkan bahwa kasus keracunan ini terjadi pada Selasa (26/6/2023) malam. Para santri mengeluhkan gejala mual, muntah, diare, dan demam setelah mengonsumsi makanan siang yang disediakan oleh pihak pesantren.

"Awalnya ada beberapa santri yang mengeluh sakit perut. Kemudian jumlahnya terus bertambah hingga mencapai 512 orang. Kami segera melakukan penanganan dan membawa korban ke rumah sakit sekitar untuk mendapatkan pertolongan medis," jelas AKBP Wahyu Hidayat dalam konferensi pers di Polres Sidoarjo.

Dari total korban, sebanyak 490 santri dirawat di RSUD dr. Soetomo Surabaya, 15 orang di RSUD Sidoarjo, dan 7 orang di RS Mitra Plumbon. Satu santri dilaporkan dalam kondisi kritis sehingga harus mendapatkan perawatan intensif.

Dokter RSUD dr. Soetomo, dr. Rina Kusumawardhani, menjelaskan bahwa para korban mengalami gejala keracunan makanan berat akibat konsumsi nasi uduk dan lauk pauk yang disediakan pihak pesantren. "Sampai saat ini kondisi mayoritas korban sudah stabil. Kami masih melakukan observasi untuk memastikan tidak ada gejala kambuh," tambahnya.

Investigasi Penyebab Keracunan

Pihak kepolisian telah mengambil sampel makanan sisa yang disajikan kepada para santri untuk diperiksa di laboratorium. Hasil sementara menunjukkan adanya bakteri Clostridium perfringens dalam sampel makanan. Bakteri ini biasa ditemukan dalam makanan yang tidak disimpan dengan baik atau dimasak secara tidak sempurna.

Respons Pihak Pesantren dan Pemerintah

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Furqon, KH. Abdulloh Fathoni, meminta maaf atas kejadian ini. Menurutnya, pihaknya akan memeriksa kembali standar kebersihan dan keamanan pangan di dapur pesantren. "Kami meminta maaf atas kejadian ini. Kami akan segera melakukan evaluasi internal dan memastikan tidak ada kejadian serupa di masa depan," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa telah menginstruksikan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur untuk melakukan pengecekan kesehatan massal di seluruh pesantren di wilayahnya. "Kami tidak ingin kejadian serupa terulang. Pesantren sebagai tempat belajar dan bermukim harus memastikan kesehatan dan keselamatan santri menjadi prioritas utama," kata Khofifah.

Tanggapan DPR: Program Ini Sangat Bagus, tapi Tolong Diperbaiki

Dalam sidang paripurna DPR RI, Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKB Lalu Hadrian Irfani menyampaikan sikap terkait kejadian keracunan ini. Menurutnya, program Bantuan Langsung Tunai (BLT) Beras untuk Pesantren sangat bermanfaat, namun perlu ada supervisi yang lebih ketat.

Ia menambahkan bahwa pihaknya akan mengusulkan adanya pelatihan bagi pengurus dapur pesantren mengenai pengelolaan pangan yang aman dan higienis. "Kami juga akan mengevaluasi mekanisme distribusi dan pengawasan bantuan pangan di pesantren untuk memastikan kualitasnya terjaga," tambahnya.

Tindakan Pencegahan ke Depan

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo telah mengimbau seluruh pesantren untuk melakukan pengecekan kebersihan dapur dan standar keamanan pangan. Selain itu, pihaknya juga menyediakan bimbingan teknis bagi pengurus dapur pesantren.

Kasus keracunan ini menjadi pelajaran bagi seluruh pihak terkait pentingnya menjaga keamanan pangan, terutama di lemb-lembra pendidikan yang menampung banyak peserta didik. Dengan adanya evaluasi dan perbaikan sistem diharapkan kejadian serupa dapat dicegah di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter