34 Santri di Sidoarjo Diduga Keracunan Makanan Berat Masih Dirawat di Rumah Sakit
Puluhan santri di sebuah pesantren di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan makanan berat (MBG). Sebanyak 34 korban masih menjalani perawatan di beberapa rumah sakit setelah mengonsumsi makanan dari dapur pesantren pada Rabu (15/3/2023). Kondisi 14 di antaranya masih dirawat intensif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, drg. Ahmad Yani, mengatakan timnya telah turun ke lokasi untuk melakukan investigasi. "Kami sudah mengambil sampel makanan dan air yang dikonsumsi para santri. Hasil laboratorium akan menentukan apakah benar terjadi keracunan makanan atau tidak," ujar Yani, Kamis (16/3/2023).
Gejala yang Dialami Santri
Sekitar 80 santri di Pesantren Al-Falah mengeluhkan gejala mual, muntah, diare, dan demam setelah makan siang. Dari jumlah tersebut, 34 santri dalam kondisi cukup parah sehingga dirawat di tiga rumah sakit sekitar, yakni RSUD Sidoarjo, RS Islam Sidoarjo, dan RS Bhayangkara.
"Korban mengeluhkan mual dan muntah berulang kali disertai diare dan demam. Beberapa santri juga mengalami dehidrasi akibat diare yang berlebihan," jelas Kepala RSUD Sidoarjo, dr. H. Muhlisin.
Ia menambahkan, 14 santri masih dalam perawatan intensif karena kondisinya yang masih memprihatinkan. "Sisanya sudah dalam kondisi stabil dan diperkirakan bisa pulang dalam beberapa hari kecuali ada komplikasi," tambahnya.
Investigasi Awal
Tim Dinas Kesehatan Sidoarjo telah mengambil sampel makanan sisa yang dikonsumsi para santri, termasuk sayur asem, ayam goreng, dan tempe. Selain itu, mereka juga mengambil sampel air minum dan air limbah dari dapur pesantren.
"Kami sedang melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah ada bakteri patogen atau zat beracun dalam makanan tersebut. Prosesnya memakan waktu sekitar tiga hingga lima hari," jelas Ahmad Yani.
Sementara itu, Kepala Pesantren Al-Falah, H. Ahmad Fauzi, mengaku terkejut dengan kejadian ini. Ia menyatakan bahwa dapur pesantren selalu menjalankan standar kebersihan. "Kami sudah bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk menangani para santri ini. Dapur pesantren sementara ditutup untuk investigasi lebih lanjut," ucap Fauzi.
Tanggapan Pemerintah Daerah
Bupati Sidoarjo, H. Ahmad Muhdlor Ali, meminta agar masyarakat tidak terlalu khawatir terkait kejadian ini. Pihaknya sudah memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
"Kami sudah memerintahkan Dinas Kesehatan untuk segera menindaklanjuti kejadian ini. Selain itu, kami juga akan melakukan pemeriksaan ke semua pesantren di Sidoarjo untuk memastikan kebersihan dapur dan makanan yang disajikan," jelas Bupati.
Ia menambahkan, pihaknya akan memberikan santunan biaya pengobatan bagi para santri yang dirawat di rumah sakit. "Kami akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban ini. Jadi tidak perlu ada kecemasan dari pihak keluarga," tegasnya.
Upaya Pencegahan
Dinas Kesehatan Sidoarjo akan mengadakan sosialisasi tentang kebersihan makanan kepada seluruh pengelola dapur pesantren dan lembaga pendidikan di wilayahnya. "Kami akan memberikan edukasi tentang cara penyajian makanan yang higienis untuk mencegah terulangnya kejadian serupa," kata Ahmad Yani.
Sebelumnya, pada Januari 2023, terjadi kasus serupa di sebuah pesantren di Kabupaten Malang yang melibatkan puluhan santri yang diduga keracunan makanan. Kasus tersebut akhirnya berhasil ditangani setelah tim medis segera memberikan penanganan yang tepat.
Untuk sementara waktu, pihak pesantren Al-Falah menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar untuk memastikan semua santri dalam kondisi sehat sebelum melanjutkan aktivitasnya. "Kami akan melakukan sterilisasi dapur dan peralatan masak sebelum aktivitas di dapur dilanjutkan kembali," ujar H. Ahmad Fauzi.
Komentar (0)